Mencari Pemimpin Alternatif Melalui Gerakan Indonesia Memilih

Wajah-wajah lama dipastikan bakal menghiasi pemilu 2014. Ini sudah terlihat dari sejumlah survey calon presiden yang bisa dikatakan itu lagi-itu lagi dan hampir semuanya mengikuti pemilu. Akhir bulan lalu, Kelompok Rumah Kebangsaan meluncurkan program Indonesia memilih pemimpin. Kelompok ini terdiri dari kalangan intelektual, tokoh agama  dan masyarakat menyatakan  perlu pemimpin alternatif  yang bisa membawa keluar Indonesia dari berbagai persoalan.  Apakah melalui program ini sosok negarawan bisa dimunculkan dan bagaimana kriterianya?

Penggagas Indonesia Memilih Burhanuddin Muhtadi mengklaim pencarian sosok presiden alternatif melalui Kelompok Rumah kebangsaan dinilainya akan berhasil. Kata dia, melalui proses rekrutmen ini,  merupakan cara yang paling baik untuk menghasilkan sosok pemimpin yang memiliki kualitas dan integritas baik untuk membawa bangsa Indonesia kearah lebih baik.

Lanjut Muhtadi, adapun gagasan utama program ini bertujuan untuk menyehatkan proses demokrasi yang diterapkan di Indonesia saat ini. Pasalnya kata dia, proses demokrasi di Indonesa sudah salah kaprah. Dimana partai Politik yang menjadi instrument penting demokrasi tidak berjalan  secara maksimal dalam mencari sosok pemimpin.

“Selama tiga kali  pemilu setelah  reformasi, kita dihadapkan pada kenyataan partai politik malah dimanfaatkan. Adanya privatisasi partai politik, Partai politik dijadikan sebagai PT, dan sistem dinasti dalam partai politik,” keluh Muhtadi

Melihat kondisi seperti ini, maka teman-teman dari kelompok Rumah Kebangsaan yang terdiri dari kalangan intelektual, tokoh agama dan masyarakat berinisiatif untuk membantu memperbaiki partai politik.  Nantinya, Partai politik diharapkan bisa menawarakan calon pemimpin untuk Pilpres, Pilkada dan legislative  yang memiliki kemampuan baik.

“Kita ingin merubah kalau  parpol yang menawarkan calon-calon pemimpin yang paling baik dari kredibilitas dan kualitas. Kita membantu orang- orang yang memiliki kredibiltas  tadi untuk diperkenalkan kepada masyarakat dan bekerjasama dengan media untuk memunculkan figurnya,” jelas Muhtadi.

Muhtadi menambahkan,  gerakan ini untuk mendorong agar partai politik memperbaiki proses rekrutmen calon pemimpin yang nantinya akan dijual kepada masyarakat untuk menjadi seorang negarawan. Karena selama ini, partai politiik lebih banyak melahirkan politisi ketimbang melahirkan negarawan.

“ Kita ingin parpol menciptakan politisi yang negarawan. Sosok negarawan dalam tiga tahun terakhir ini tidak terlihat. Karena  ada proses transaksi partai politik mahal. Sehingga partai politik lebih mencari keuntungan ketimbang calon yang memiliki kemampuan baik,” keluh Muhtadi.

Muhtadi memperkirakan, jika sistem lama partai politik masih digunakan untuk menjaring sosok pemimpin maka, mau tidak mau  partai politik tersebut akan ditinggalkan oleh masyarakat. Sebab saat ini,  pikiran masyarakat sudah terbuka. Mereka sudah tidak mau melihat partai politiknya. Melainkan mereka bakal melihat sosok figure  yang ditawarkan oleh Partai politik.

Contohnya saja, dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Kemenangan  Joko Widodo sebagai gubernur yang diusung oleh Partai PDIP dan Gerindra  itu dipilih bukan karena partainya. Melainkan  sosok Jokowi yang memiliki kualitas dan integritas baik di mata masyarakat.

Adapun  cara kerjanya,  Lembaga Survey Indonesia bekerjasama dengan harian Kompas untuk melakukan survey kepada 234 responden di 15 kota. Responden itu dipilih berdsarkan kriteria seorang dokter, pensiunan Jenderal, pengusaha, kelompok strategis dan LSM. Kenapa dipilih mereka, karena   kelompok orang ini yang lebih memiliki pengetahuan lebih luas mengenai calon-calon yang akan disodorkannya. Kemudian, ketika sudah diketahui hasil, calon-calon yang terpilih itu akan digulirkan kepada masyarakat untuk diperkenalkan dengan bantuan media.

“ketika hasil sudah diperoleh, maka kita akan menggandeng media untuk mempopularkannya kepada masyarakat. Karena selama ini, masyrakat hanya kenal calon yang pernah  ikut kompetisi aja.

Muhtadi menambahkan, Selama ini orang yang punya kualitas tidak berbanding lurus dengan popularitas. Maka dari itu, dengan gagasan ini  pihaknya akan membantu orang-orang yang layak menjadi seorang pemimpin dimunculkan dan diajak bersaing dengan calon-calon lainnya.

Sementara Pengamat Politik LIPI Ikrar Nusa Bhakti cara yang digagas oleh Kelompok Rumah Kebangsaan ini sangat membantu Partai Politik dalam menjalankan fungsnya. Salah satunya adalah proses rekrutmen untuk mencari calon pemimpin.

“Kita baru demokrasi baru 12 tahun oleh karena itu proses politik masih terus bergulir. Ini harus diperjuangkan,’tutur Ikrar.

Ikrar menanbahakan,  menjadi seorang pemimpin harus memiliki dua keriteria diantaranta dia harus menjdi nasionali dan internasionalis.  Dia tidak terlalu ortodok dan tidak berpikiran sempit. Kalau hal ini terjadi, maka  menyulitkan Indonesia dalam kancah politik maupun ekonomi internasional. Kalu ortodoks atau terlalu  nasionalis sempit akan menimbulkan satu ketakutan dari negara negara lain.

“Harus memiliki visi dan misi mengenai Indonesi kedepan. Jadi gabungan nasionalis dan internasionalis menjadi penting. Dahulu bung Karno menggagas pancasila. Di Pancasila  itu sila pertama nasionalisme atau kebangsaan yang kedua internasionalisme atau kemanusiaan”, jelasnya.(Kantor Berita 68H)

Radio Citra Atlas 102.6 FM Lubuklinggau
Number of View :670